Feature Dibalik Batu Pertama 2
DI BALIK BATU PERTAMA
Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan
Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato
![]() |
| Suasana pertemuan masyarakat dengan pihak lembaga donor di lokasi Tanah Wakaf di Dusun Bukik Limau pada Kami, 23 Juli 2026 |
BAB 1
Orang yang Membawa Harapan
"Setiap masjid dimulai dengan satu batu pertama. Tetapi tidak semua batu pertama diletakkan dengan hati yang tenang."
Saya masih ingat betul hari ketika pertama kali mengenal seorang lelaki-laki paruh baya bernama Lazirfad. Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Pak Tang.
Nama itu melekat begitu saja. Saya tidak pernah bertanya dari mana asalnya. Di kampung, julukan sering kali lebih terkenal daripada nama yang tertulis di kartu tanda penduduk.
Saat itu saya belum mengenalnya dekat. Yang saya tahu hanya satu. Ia sering datang membawa kabar baik. Kabar tentang bantuan pembangunan masjid.
Bagi masyarakat kampung, kabar seperti itu lebih berharga daripada kabar politik tentang pra peradilan kasus tuduhan Ijazah palsu. Sebab yang dibicarakan bukan soal siapa yang menang atau siapa yang kalah. Yang dibicarakan adalah rumah Allah.
Saya melihat sendiri bagaimana mata para pengurus mushalla berbinar setiap kali mendengar ada peluang mendapatkan bantuan pembangunan.
Mereka bukan orang kaya. Mereka bukan pengusaha besar. Mereka hanyalah petani, buruh harian, tukang lunyah lubang rancah pembuat batu bata.
Namun ketika berbicara tentang membangun masjid, semangat mereka sering kali melebihi kemampuan kantong mereka sendiri. Walaupun hidup mereka pas pasan, sering menunggak uang iuran bulanan warga, namun bila untuk membangun surau, masjid dan mushalla, mereka dengan gembira menyumbangkan ratusan batu batu di setiap tungkunya.
Di situlah Pak Tang hadir. Ia datang membawa jaringan, koneksi. Membawa informasi. Membawa harapan.
Sedangkan saya... Saya adalah seorang guru ngaji, jurnalis portal media online yang sesekali turun meliput acara peletakan batu pertama atau peresmian mushalla demi untuk mendapatkan informasi utuh yang akan diinformasikan kepada kaum muslimin pada umumnya.
Saya datang hanya membawa Smartphone tua dengan RAM seukuran dua Giga biasanya untuk bermain game anak-anak sekolah.
Saya tidak mempunyai proyek. Saya tidak mempunyai jabatan. Saya hanya tahu cara mengetik berita, menjepret foto dan mempublikasikannya. Sedikit memahami cara membuat proposal. Bisa mengirim email dan edit video serta Canva.
Kemampuan-kemampuan kecil itulah yang kemudian membuat saya perlahan ikut terseret ke dalam dunia yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Awalnya sederhana. "Malin, tolong bantu buat ajuan proposal ya.."
Kalimat itu terdengar ringan, tambah lagi saya punya Wifi di rumah. Bila bahan dan dokumennya lengkap, dalam beberapa menit link ajuan proposal selesai terkirim.
Tetapi ternyata satu ajuan proposal melahirkan proposal lain. Satu calon penerima manfaat bercerita kepada yang lainnya. Satu pengurus merekomendasikan kepada pengurus mushalla lainnya.
Tanpa pernah saya rencanakan, rumah saya mulai didatangi orang-orang yang ingin meminta bantuan membuat ajuan proposal pembangunan masjid.
Saya tidak pernah memungut bayaran. Bukan karena saya orang kaya. Justru karena saya tahu rasanya menjadi orang yang berharap.
Saya percaya, jika Allah menitipkan sedikit kemampuan kepada saya, maka kemampuan itu pun mempunyai hak untuk dinikmati orang lain.
Barangkali karena itulah saya tidak pernah benar-benar bisa menolak. Setiap ada telepon dari Pak Tang, saya selalu menjawab.
Setiap ada proposal yang harus diajukan, saya selalu membantu mengirimkannya. Karena di hp saya tidak mampu, saya sering pinjam hp panitia pembangunan masjid itu, langsung dikirim dari hp nya.
Bila ada kekurangan dokumen, data atau foto serta koordinat lokasi calon tempat dibangun masjid, dengan senang hati saya turun ke lokasi seperti seorang suveior lembaga penyandang dana.
Saya tidak pernah menghitung berapa banyak waktu yang telah saya berikan. Saya juga tidak pernah bertanya, apakah semua ini akan dibayar. Saya senang melakukannya karena sudah terbiasa dengan kegiatan sosial kemanusian sejak lama. Membantu korban banjir galodo, korban gempa dan sebagainya, itulah jiwa kami para kader-kader dakwah.
Bagi saya, melihat satu mushalla berdiri jauh lebih membahagiakan daripada menerima selembar uang.
Saya mengira semua orang memandangnya dengan cara yang sama.
Ternyata saya keliru.
Perlahan-lahan saya mulai belajar bahwa di balik proposal yang rapi, di balik spanduk peletakan batu pertama, dan di balik senyum yang diabadikan kamera, ada dunia lain yang tidak pernah terlihat oleh saya.
Dunia itulah yang kelak mengubah cara saya memandang amanah.
Dan semua itu bermula dari dua bidang tanah wakaf di Lakuak Balik Bukit, Dusun Bukik Limau, jorong Sarilamak, nagari Sarilamak, kecamatan Harau, kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia.



Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.