Feature Dibalik Batu Pertama 3
DI BALIK BATU PERTAMA
Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan
Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato
![]() |
| Warga dusun Bukik Limau ketika membongkar muat Batu Bata |
BAB 2
Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri
Ada orang yang membangun masjid dengan uang. Ada yang membangunnya dengan tenaga. Ada pula yang membangunnya dengan ilmu. Ada pula dengan kebijakannya karena ia punya tunjuk yang runcing.
Saya tidak mempunyai banyak uang. Saya juga bukan orang ahli tukang bangunan. Yang saya miliki hanyalah kemampuan mengetik.
Mungkin terdengar sederhana. Hanya bermodalkan jempol dan hp tua saja?
Tetapi saya percaya, di hadapan Allah, sebuah proposal yang diajukan dengan niat ikhlas bisa menjadi bagian dari pondasi sebuah masjid.
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang yang dicari-cari karena proposal.
Saya lebih senang duduk di RQ Bunayya Sarilamak mengajarkan anak-anak mengeja huruf-huruf Al-Qur'an, membimbing anak-anak supaya bisa Adzan, Iqomah, Shalat dan hafal Juz Amma.
Di sela-sela itu, untuk menambah wawasan dan memperluas jaringan saya turun membuat liputan mengabarkan peristiwa dan acara-acara yang bisa saya jangkau saja, kemudian di posting di berbagai portal media online seperti baritonagarinews, matajurnalist, triarganews, sumbareksis, gosumatera, rajoapinews, Jaringan Berita Indonesia Satu, dan lain sebagainya. Saya boleh pilih sesuai dengan segmen yang ditulis.
Mengapa begitu banyak? karena memang saya adalah penanggung Jawab IT nya. Portal-portal berita itu milik sahabat-sahabat saya, sebagian besar sayalah yang membangun situsnya dari awal, dan saya juga diberi ID Card sebagai wartawan di redaksinya.
Saya juga sering mengurus komputer yang rusak. Instalasi Linux, sebagai conten creator membuat video harian untuk tayang di facebook, instagram, tiktok dan youtube.
Bila kosong kegiatan, saya ke parak bersama istri, antar-jemput anak ke sekolah, atau belajar berbagai masakan untuk cemilan anak-anak di rumah. Begitulah profile kehidupan saya berjalan sehari-hari. Sederhana. Tenang.
Sampai suatu hari, tanpa saya sadari, kemampuan kecil itu mulai dibutuhkan banyak orang.
"Malin, tolong buatkan proposal."
"Malin, tolong kirim email."
"Malin, tolong edit fotonya."
"Malin, tolong buatkan berita."
"Malin, tolong buatkan videonya"
Saya hampir tidak bisa berkata tidak. Bukan karena saya tidak tahu lelah. Tetapi karena saya selalu membayangkan wajah-wajah yang sedang berharap. Saya juga sering di posisi itu. Ketika sangat mengharapkan sesuatu, datang orang membantu, sangat senang sekali rasanya.
Di Dusun Bukik Limau, saya pernah melihat ibu-ibu mengumpulkan uang atas usaha kerbau merancah lubang tanah untuk bahan membuat Batu Bata, lalu untuk membeli semen, kusen, pintu, jendela, karpet untuk Surau.
Saya pernah melihat bapak-bapak mengantar sumbangan membawa kerekel dengan mobil pickup yang ia punya, memikul kayu dan batu, memakai cangkul dan gerobak yang mereka punya.
Saya pernah melihat anak-anak mengaji di Surau yang atapnya belum jadi, dan dindingnya belum sempurna dipasang.
Bagaimana mungkin saya menolak membantu, jika yang saya lakukan hanya duduk dan mengisi link ajuan proposal di hp saja?
Begitulah saya memandang setiap ajuan proposal. Bukan sebagai berkas administrasi. Melainkan sebagai doa yang sedang mencari jalan menuju langit.
Mungkin karena itulah saya tidak pernah meminta bayaran, bahkan menolaknya.
Suatu ketika ada seorang anggota Dewan yang datang memberi saya beberapa lembar uang berwarna merah sebagai tanda terima kasih karena saya telah membantu membuat ajuan proposal untuk warga di dapilnya, hati saya selalu merasa gelisah dan tidak menerimanya.
Apalagi jika amplop itu berasal dari orang yang sedang membutuhkan bantuan.
Bagi saya, orang yang datang mengajukan proposal bukanlah pelanggan.
Mereka adalah saudara.
Mereka datang membawa harapan.
Harapan itu terlalu mahal untuk ditukar dengan selembar uang.
Saya selalu percaya bahwa jika suatu pekerjaan dilakukan karena Allah, maka Allah pula yang akan mencukupkan rezeki untuk kita.
Saya tidak pernah menyangka, keyakinan seperti itulah yang membawa saya pada sebuah ujian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Sebuah ujian yang membuat saya harus memilih antara diam atau mempertahankan apa yang saya anggap benar.
Dan ujian itu dimulai bukan di ruang rapat.
Bukan pula di kantor.
Melainkan di sebidang tanah wakaf yang dipenuhi asap bekas tungku pembakaran batu Bata di Lakuak, Balik Bukit, Dusun Bukik Limau.
Bersambung...



Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.