-->
Telusuri
  • Homepage
  • Tentang Saya
  • Kontak
Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Kategori Postingan
    • Artikel
    • Khazanah Islam
    • Kisah-Kisah
    • Video
    • Photo
  • Photo
    • Video
  • Arsip Lama
  • Video
  • Featured
    • Koleksi Situs Berita
    • Home - Akad Nikah Nursakdiyah
    • Aksi Tanggap Bencana
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • Tutorial PemogramanNew
Beranda Dibalik Batu Pertama Feature Feature - Dibalik Batu Pertama 6
Dibalik Batu Pertama Feature

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

Fitra Yadi
Fitra Yadi
11 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

DI BALIK BATU PERTAMA

Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan

Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato



BAB 5

Deadline Lima Hari

Harapan ternyata tidak selalu datang dengan langkah yang tenang.

Kadang ia datang berlari.

Begitulah yang terjadi di Bukik Limau.

Setelah bertahun-tahun menunggu, tiba-tiba pembangunan mushalla itu seperti dipacu oleh waktu.

Paroposal sudah diajukan.

Lokasi sudah disiapkan untuk dibicarakan.

Masyarakat sudah mulai membayangkan bangunan yang akan berdiri.

Namun panitia belum tahu bahwa waktu yang tersedia ternyata sangat sedikit.

Pada pertengahan Juli 2026, kabar itu mulai semakin jelas.

Pak Tang menghubungi saya.

Ada perkembangan.

Proposal pembangunan itu sudah mendapatkan persetujuan.

Pekerjaan sudah dilimpahkan kepada Mitra Initiative.

Dan sekarang, kata beliau, panitia harus bergerak cepat.

Saya mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.

Selama empat tahun masyarakat menunggu.

Sekarang, justru panitia diminta berlari.

Saya memahami bahwa proyek bantuan mempunyai aturan dan target. Ada laporan yang harus dibuat. Ada pertanggung jawaban yang harus disampaikan. Ada pihak-pihak yang bekerja dengan tenggat waktu.

Tetapi tanah wakaf tidak mengenal deadline.

Tanah itu tidak bisa tiba-tiba rata hanya karena sebuah laporan harus dikirim.

Rozi juga tidak bisa memindahkan tempat usaha pembuatan batanya dalam satu malam.

Panitia membutuhkan waktu.

Masyarakat membutuhkan waktu.

Bahkan sebuah acara peletakan batu pertama membutuhkan persiapan.

Undangan.

Tempat.

Pengeras suara.

Konsumsi.

Dokumentasi.

Susunan acara.

Dan yang paling penting: memastikan bahwa lokasi benar-benar siap.

Tetapi sistem proyek yang dikelola Pak Tang ini mempunyai cara dan jamnya sendiri.

Dan jam itu sedang berdetak.


Malam Rabu, 22 Juli 2026, Panitia mengadakan rapat.

Rapat berlangsung di Surau TPQ Al-Amin Bukik Limau.

Saya juga hadir di situ. 

Jam menunjukkan sekitar pukul setengah delapan malam ketika pembicaraan dimulai.

Di ruangan itu ada Pak Sardi, Ketua Nazir Wakaf.

Pak Sabar, Ketua Pengurus Mushalla.

Saya sendiri.

Pak Rizki Yuzhar.

Pak Slamet.

Pak Andi Suharta.

Dan Pak Riswan, yang biasa dipanggil Pak Buyung.

Panitia tidak sedang membicarakan sesuatu yang kecil. Mereka sedang mencoba menyiapkan sebuah pembangunan. Mereka membicarakan ukuran bangunan. Mereka membicarakan swadaya, membicarakan kondisi tanah, membicarakan Rozi. Usaha batu batanya. Rumah dan barang-barangnya. Semuanya harus dipindahkan. Semuanya harus dipikirkan.

Panitia bahkan berharap masih mempunyai waktu untuk membicarakan kemungkinan mengubah dengan tambahan dana swadaya ukuran bangunan dari 8 × 8 meter menjadi 12 × 12 meter.

Bukan karena ingin membesar-besarkan bangunan.

Tetapi karena tanah wakaf itu berada di tengah kawasan yang sedang berkembang.

Kelak mungkin akan ada lebih banyak rumah.

Lebih banyak warga pendatang yang tinggal di sana. 

Dan mungkin, jika Allah menghendaki, mushalla itu nantinya akan menjadi masjid tempat shalat Jumat bagi masyarakat sekitar.

Kalau memang harus membangun dari awal, mengapa tidak dibuat lebih luas?

Begitulah kira-kira pertimbangannya.

Panitia ingin merencanakan dengan baik. Tetapi malam itu belum tahu bahwa waktu hampir habis.


Keesokan harinya, Kamis, 23 Juli 2026.

Sore itu saya datang ke dusun Bukik Limau, ke tanah waqaf itu bertemu Rozi.

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.15 WIB.

Saya memarkirkan sepeda motor.

Memanggil Rozi.

Kemudian masuk ke rumah sederhananya.

Istrinya, Sindi, ada di sana.

Kami duduk di atas tikar busa.

Saya membuka map.

Dokumen-dokumen pembangunan saya keluarkan.

Gambar.

Surat.

SK panitia.

Berbagai berkas yang beberapa hari terakhir menjadi bagian dari kehidupan panitia.

Di luar rumah, asap tungku bata tidak lagi mengepul, ia sudah menghentikan pembakaran, lebih dari seribu biji batu Batanya masih tersusun merah diatas tungku menunggu pembeli yang akan memesan. Sedangkan ribuan batu bata yang sudah dicetak sedang dibandreng untuk dikeringkan

Saya melihat Rozi.

Ia bukan bagian dari proyek.

Ia hanya seorang warga perantau yang sedang mencari nafkah.

Tanah yang selama ini menjadi tempat usahanya sekarang dibutuhkan untuk pembangunan mushalla.

Ia harus pergi.

Bukan karena ia melakukan kesalahan.

Tetapi karena tanah itu adalah tanah wakaf.

Dan sebuah amanah wakaf memang mempunyai tujuan yang harus dihormati.

Saya memahami posisi panitia.

Tetapi saya juga memahami posisi Rozi.

Di situlah persoalan menjadi lebih manusiawi.

Pembangunan mushalla tidak boleh membuat orang lain merasa kehilangan tempat mencari makan.

Karena mushalla seharusnya membawa rahmat.

Bukan menambah kesulitan.


Beberapa menit kemudian Pak Tang datang.

Pengurus menyusul.

Pak Sardi.

Pak Rizki.

Pak Baryono.

Yang lain mulai berdatangan.

Saat itulah suasana berubah.

Ia menjelaskan bahwa ada deadline dari pihak atas, katanya. 

Pekerjaan harus segera dimulai.

Bukan minggu depan.

Bukan bulan depan.

Segera.

Saya masih ingat bagaimana wajah pengurus ketika mendengar penjelasan itu.

Mereka saling memandang.

Bukan karena tidak mau membangun.

Justru karena terlalu ingin pembangunan itu berhasil.

Masalahnya adalah kondisi lapangan.

Tanah belum siap.

Usaha Rozi belum sepenuhnya dipindahkan.

Batu bata masih ada.

Tempat usaha masih berjalan.

Sementara acara peletakan batu pertama sudah harus dilaksanakan.

Dan tanggalnya ditetapkan:

Sabtu, 25 Juli 2026.

Tinggal dua hari lagi.

Dua hari untuk menyiapkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ditunggu.

Saya seperti melihat dua dunia sedang bertabrakan.

Dunia pertama adalah dunia masyarakat.

Dunia yang berjalan perlahan.

Musyawarah.

Gotong royong.

Mencari uang.

Mencari bahan.

Menyelesaikan persoalan tetangga.

Memindahkan usaha.

Merapikan tanah.

Dunia kedua adalah dunia pak Tang. 

Proposal.

Persetujuan.

Target.

Deadline.

Laporan.

Dua dunia itu sama-sama mempunyai alasan.

Tetapi sore itu keduanya harus bertemu di satu tempat.

Di atas tanah wakaf ibu Suratmi di dusun Bukik Limau.


Pak Tang berbicara kepada pengurus dengan nada tegas.

Pekerjaan harus dimulai.

Kalau tidak, bantuan bisa dipindahkan ke tempat lain.

Ia menjelaskan bahwa atasannya hanya memberikan waktu terbatas untuk memulai pekerjaan, katanya. 

Laporan harus segera masuk.

Saya melihat Pak Baryono mulai gelisah.

Tidak ada air minum.

Suasana terasa panas.

Ia bahkan mengajak pindah duduk ke Surau TPQ Al-Amin atau ke warung milik kepala dusun.

Tetapi Pak Tang tidak mau.

"Di sini saja."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi entah mengapa sore itu terasa seperti sedang berada di medan tempur.

Saya kemudian berpikir:

Apakah benar seperti ini dunia proyek, atau hanya keinginan Pak Tang saja mempercepat pelaksanaan proyek demi untuk mendapatkan keuntungan.

Tidak ada banyak waktu untuk menunggu.

Tidak ada banyak ruang untuk ragu.

Target harus dicapai.

Laporan harus dibuat.

Dan seseorang harus memastikan semuanya bergerak.

Namun di dalam hati saya masih ada pertanyaan:

Apakah pembangunan rumah Allah juga harus dimulai dengan tergesa-gesa?

Saya tidak mempunyai jawabannya.

Saya hanya menyimpan pertanyaan itu dalam hati.

Pembicaraan terus berlangsung.

Tarik-menarik waktu.

Membicarakan gambar.

Membicarakan ukuran.

Membicarakan pekerjaan yang harus segera dilakukan.

Saya ikut mendengarkan.

Namun pikiran saya tiba-tiba terpecah.

Telepon berdering.

Kabar dari keluarga.

Kakak saya di Purwajaya menelepon dengan suara terburu-buru.

Suaminya meninggal dunia di rumah saudaranya di Koto Tuo, Sungai Tarab.

Ia meminta saya mencarikan kain kafan lengkap.

Saya terdiam.

Di satu sisi ada pembangunan mushalla. 

Di sisi lain ada kematian.

Satu kehidupan sedang memulai persiapan menuju sebuah bangunan baru.

Satu kehidupan lain baru saja selesai.

Saya meminta izin.

Saya pulang membelikan kain kafan.

Tidak lama.

Setelah itu saya kembali lagi.

Ketika saya kembali ke Bukik Limau, pembicaraan pembangunan masih berlangsung.

Saya melihat mereka duduk serius.

Saya kemudian menyadari sesuatu.

Hidup ternyata memang tidak pernah menunggu kita menyelesaikan satu urusan terlebih dahulu.

Kematian tidak menunggu rapat selesai.

Pembangunan tidak menunggu kesedihan selesai.

Kebutuhan manusia datang bersamaan.

Dan kita hanya bisa berusaha menjalankan bagian masing-masing.


Hari Jumat berlalu seperti angin.

Rozi dan Sindi sampai jam dua malam memindahkan batu Bata basah yang masih dibandreng ke pondok Bata lain milik keluarganya.

Dua orang teman diberi upah untuk membuka pondok tungku pembakaran dan mempersiapkan lokasi acara. 

Sabtu pagi semakin dekat.

Acara harus dilaksanakan.

Undangan sudah disebarkan.

Spanduk sudah dibuat.

Susunan acara sudah disusun.

Masyarakat mulai berdatangan.

Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun menunggu, sebuah batu pertama akan diletakkan di tanah wakaf Bukik Limau.

Saya berdiri di sana.

Memandang tanah yang beberapa hari sebelumnya masih dipenuhi persoalan.

Saya teringat proposal empat tahun lalu.

Saya teringat ajuan yang pernah saya kirim.

Saya teringat orang-orang yang pernah berharap.

Dan saya berkata dalam hati:

Ya Allah, semoga ini benar-benar menjadi rumah-Mu.

Saya belum tahu bahwa beberapa jam setelah batu pertama itu diletakkan, saya akan menghadapi sebuah persoalan lain.

Persoalan yang jauh lebih kecil daripada ukuran bangunan.

Tetapi jauh lebih besar bagi hati saya.

Sebuah amplop.

Lima ratus ribu rupiah.

Dan sebuah pertanyaan tentang batas antara terima kasih dan meminta dari orang yang sedang menerima bantuan.

Di sanalah ujian amanah itu benar-benar dimulai.

***

Lanjut baca >>>

  1. BAB 1 - Orang yang Membawa Harapan
  2. BAB 2 - Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri
  3. BAB 3 - Menjadi "Orang Human Initiative" Tanpa Pernah Diangkat
  4. BAB 4 - Empat Tahun Menunggu
  5. BAB 5 - Deadline Lima Hari


Via Dibalik Batu Pertama
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru
Fitra Yadi
Fitra Yadi Guru, jurnalis, aktifis

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement
Fitra Yadi Malin Parmato
Lihat Tentang saya
 


Tutorial Edit Video

Kdenlive - Freedom Video Editing


Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

Fitra Yadi- 23.37 0
Feature - Dibalik Batu Pertama 6
DI BALIK BATU PERTAMA Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato BAB 5 Deadline Lima Hari Harapan ternyata tidak s…

Most Popular

Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

22.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 2

Feature - Dibalik Batu Pertama 2

21.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 1

Feature - Dibalik Batu Pertama 1

19.38
Feature - Dibalik Batu Pertama 3

Feature - Dibalik Batu Pertama 3

23.48
Feature - Dibalik Batu Pertama 5

Feature - Dibalik Batu Pertama 5

13.27
Feature - Dibalik Batu Pertama 4

Feature - Dibalik Batu Pertama 4

06.53
Khutbah Idul Fitri 1447 H - Tahun 2026 - Berharap Hidayah Allah

Khutbah Idul Fitri 1447 H - Tahun 2026 - Berharap Hidayah Allah

21.08

Recent Comments

Follow Us On Instagram @fitrayadi1980

Fitra Yadi Malin Parmato

About Us

Saya seorang Kepala Keluarga, Pendidik, Da'i - Muballigh, Jurnalis, petani, aktifis sosial dan kemanusiaan

Selengkapnya: Tentang Saya

Follow Us

© Layout by Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak