Feature - Dibalik Batu Pertama 4
DI BALIK BATU PERTAMA
Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan
Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato
BAB 3
Menjadi "Orang Human Initiative" Tanpa Pernah Diangkat
"Kadang-kadang, sebuah amanah datang bukan melalui surat keputusan. Ia datang melalui kepercayaan orang lain."
Saya tidak pernah melamar menjadi pegawai Human Initiative. Saya juga tidak pernah mengisi formulir relawan. Tidak pernah mengikuti pelatihan. Tidak pernah menerima kartu identitas. Bahkan sampai hari ini, saya bukan bagian dari lembaga itu.
Tetapi entah sejak kapan, masyarakat mulai mengenal saya sebagai "orang Human Initiative."
Semula saya menganggapnya sebagai urusan kecil. Hanya membantu membuat ajuan proposal, mengirim email. Membantu mensurvei, merekam titik koordinat dan menjepret gambar. Kemudian menyusun berita setelah acara selesai. Lalu pulang. Selesai.
Namun ternyata masyarakat melihatnya berbeda. Setiap kali ada kampung yang ingin membangun masjid, nama saya ikut disebut.
"Temui Malin dulu."
"Ajuan Proposalnya nanti Malin yang buat."
"Kalau Malin sudah membantu, mungkin peluangnya lebih besar."
Saya tersenyum saja mendengarnya.
Padahal saya tahu, saya hanyalah tukang ketik saja dengan smartphone, orang yang tahu cara mengisi link form.
Yang menentukan diterima atau tidaknya proposal bukan saya, bukan pak Tang, bukan Mitra PI.
Yang mengirim bantuan bukan saya. Yang memiliki anggaran pun bukan saya. Saya hanya mengetik, mengisi form, meletakkan titik koordinat.
Tetapi ternyata, di mata masyarakat, pekerjaan kecil itu telah menjadi jembatan harapan.
Semakin lama, semakin banyak orang datang. Ada yang membawa map lusuh berisi surat tanah. Ada yang membawa foto mushalla reyot.
Ada yang membawa gambar bangunan yang sudah berbentuk format pdf.
Ada pula yang datang hanya membawa harapan.
Saya tidak pernah tega mengabaikan mereka.
Saya sudah ajarkan kepada pak Tang bagaimana cara mengisi link form itu, tetapi selalu aja dia lupa, rumit katanya. Ini private link pula tidak boleh diisi oleh orang lain selain yang ditunjuk oleh Mitra PI.
Saya mengisi link itupun bukan atas nama saya, tetapi atas nama bosnya pak Tang, login dengan email dan passwordnya si Bos.
Ini bukan soal kemampuan, tetapi kepercayaan, bertahun-tahun pak Tang percaya memberi tahu link form itu kepada saya, juga mempercayakan user id dan password atas nama si Bos yang seharusnya dia sendiri yang mengisinya.
Saya berpikir, itu adalah amanah dari Allah, dan merupakan salah satu kesempatan untuk bisa beramal baik.
Maka saya pun membantu. Satu ajuan proposal. Lalu berlanjut ke ajuan kedua, ajuan ketiga. Sampai saya sendiri lupa entah berapa banyak ajuan proposal yang sudah pernah saya sender.
Saya tidak pernah menghitung. Karena sejak awal saya tidak menganggapnya sebagai pekerjaan. Amal baik saja membantu urusan kaum muslimin.
----
Kadang Pak Tang menelepon. "Malin, nanti ada orang datang, apakah Malin sekarang ada di rumah?"
Tidak lama kemudian, benar saja. Seorang ketua panitia muncul di depan rumah.
"Ini kedai ustazd Malin? Saya ke sini di suruh pak Tang" tanyanya ke mertua perempuan saya.
Kadang datang berdua.
Kadang berlima.
Pernah datang satu mobil jauh dari Sungai Antuan di Mudiak sana. Mereka membawa roti, kue-kue dan nasi bungkus lalu makan bersama-sama di rumah saya. Bukan hanya saya, namun juga mengajak makan istri, mertua dan anak-anak saya.
Saya melihat wajah-wajah penuh harap. Mereka tidak sedang membangun gedung mewah. Mereka hanya ingin mempunyai tempat yang layak untuk bersujud.
Itulah sebabnya saya tidak pernah meminta imbalan. Bahkan ketika ada yang hendak menyelipkan uang sebagai tanda terima kasih, hati saya selalu menolak.
Bagaimana mungkin saya mengambil uang dari orang yang sedang berharap memperoleh bantuan?
Bagi saya, jika ada balasan atas pekerjaan itu, seharusnya pak Tang lah yang harus memberikannya dari hasil usahanya.
Saya tidak menuntut, karena saya tahu Allah mencatatnya sebagai amal mulia.
Kalau pun manusia ingin memberi penghargaan, saya lebih senang penghargaan itu datang dari pihak yang meminta bantuan pekerjaan saya seperti pak Tang atau bosnya, bukan dari masyarakat yang sedang berjuang membangun rumah Allah.
Prinsip itulah yang kelak diuji. Bukan oleh orang yang tidak saya kenal. Tetapi oleh orang yang selama bertahun-tahun datang minta tolong kepada saya.
Bukan tersebab oleh proposal anggaran yang bersampul berjilid-jilid, namun hanya dari link adress untuk mengisi form online yang dikirim ke nomor WA saya.
***



Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.