Feature - Dibalik Batu Pertama 9
DI BALIK BATU PERTAMA
Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan
Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato
BAB 8
Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Sendiri
Sudah selarut ini, jam menunjukkan pukul 02.00 Wib. dini hari, Kamis, 13 Agustus 2026. Saya duduk sendiri, di dapur rumah kami, dekat periuk nasi, dekat tudung saji, duduk bersila diatas kursi, memandangi gawai menyusun narasi.
Dimana mata tak hendak tidur karena ditupang Kupi yang barusan saya minum, sekarang perut terasa perih karena tajamnya bumbu kuah Mie Aceh yang sudah tidak terbiasa lagi dengan usus saya. Mungkin karena faktor umur, penuaan.
Tadi, bakda Isya pada Rabu, 12 Agustus 2026, saya berkumpul bertiga dengan Pak Tang dan pak Riki di kedai Kupi Aceh pak Kari depan SPBU Sarilamak. Kami mengobrol tentang kelangsungan proyek pembangunan mushalla di tanah waqaf hasil paragihan ibu Suratmi di dusun Bukik Limau, Sarilamak itu.
Saya tetap dengan posisi sebagai orang tengah, sebagai perantara, banyak menyimak saja di tengah obrolan itu.
Menjawab desakan dan pertanyaan warga mengenai "kapan akan dimulai pembangunan mushalla di Bukit Limau itu". Pak Tang mengutarakan rasa simpatinya, berusaha menghadirkan solusi seakan-akan ia juga terimbas atas situasi yang terjadi.
Ia berusaha menenangkan dengan memberi jawaban "saya tidak tahu kapan pengerjaan proyek itu akan dimulai, semuanya sudah saya sampaikan kepada atasan saya. Hampir setiap saat bos menelepon saya, mengatakan " HI sedang bermusyawarah dengan donatur mengenai penambahan ukuran mushalla itu".
Bila nanti datang perintah dari si Bos, saya pasti segera melaksanakannya, kita tunggu saja". katanya meyakinkan.
"Namun sesuatu yang pasti, mushalla itu pasti akan dibangun di sana, karena foto spanduk dan acara peletakan batu pertama sudah kita lakukan di sana, di situ koordinatnya".
"Dan itu sudah dilaporkan ke Jakarta, tidak bisa diubah-ubah lagi. Demikian kepastiannya, saya menunggu perintah saja, kita bersabar saja, kita tunggu informasinya" katanya meneguhkan.
Ketika itu, walaupun saya duduk hanya diam saja mendengarkan obrolan, walaupun hanya berkutat dengan gawai tuk menuliskan beberapa rangkaian kisah, tidak ada suara membantah, tidak ada pula nada meninggi dalam bercengkerama.
Namun Pak Tang sempat juga memperagakan sesudut taring keroposnya merendahkan saya dengan sikap remeh menanggapi saya yang sedang sakit perut akibat tajamnya bumbu mie rebus.
"Iyo baitu, harus tahan padeh, nak capek gadang" katanya menyeringai terkekeh-kekeh meng agitasi saya.
Maksudnya "iya memang harus begitu, harus tahan pedas kalau ingin cepat besar" katanya seperti mencemooh kemenakannya yang takut makan cabe. Haaaaaaaah.....
Saya menahan hati lagi, seringai ini tidak obahnya bak si Kalupak bertemu si Karok di gelanggang berburu lawuak, sama-sama berebut bangkai.
Saya diam saja, ini pasti ada hubungannya dengan kekecewaannya karena ulah saya mengembalikan amplop berisi uang lima ratus ribu rupiah itu ketika peletakan Batu Pertama.
Huuuuuuf.... biarlah, yang punya mulut dia, yang punya hati dia. Mau marah, marahlah. Kedepan tidak akan saya bantu lagi.
Padi di tanam, padi tumbuh, rumput disemai, ilalang pun menjadi. Atau apakah dia taragak duri Sikajuik nan manggalayuik, bisa juga saya tunjukkan. Haaaah... Sudah lah.....
Astaghfirullahal 'Adzhim... Terulang lagi.
_____
Sekarang malam terasa semakin sunyi, dingin, sudah menunjukkan pukul setengah tiga parak siang. Tidak ada lagi suara TV, tidak terdengar tertawa menggelegar anak-anak yang sedang Mabar. Se isi rumah sudah lelap dalam tidur menggapai mimpi masing-masing.
Hanya suara tetesan air saja yang keluar dari keran yang tidak rapat meningkahi, jatuh ke dalam bak mandi. Suara kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya masih menemani.
Sebentar lagi fajar kazib akan melintang, seisi rumah akan bangun untuk makan sahur, besok siang Kamis akan puasa sunnah.
Mata saya tidak hendak mengantuk, tubuh berkeringat, karena minum berteguk-teguk air panas.
Sekarang terasa sunyi.
Tidak ada rapat.
Tidak ada telepon.
Tidak ada Pak Tang.
Tidak ada panitia.
Tidak ada Human Initiative.
Hanya saya.
Larut dalam pikiran sendiri.
insan lah fana dalam qalbu, Sirr bertanya kepada diri:
"Malin, apa sebenarnya yang kamu cari?"
Jawabannya datang perlahan, bak gelombang datang dari lautan, lalu menghempas ke bibir pantai.
"Saya tidak mencari uang."
"Saya tidak mencari jabatan."
"Saya tidak mencari nama."
Saya ingin meluruskan niat supaya kita tetap menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.
Kita ingin ajuan proposal yang dikirim itu menjadi bangunan.
Kita ingin bangunan itu menjadi tempat ibadah.
Kita ingin di sana ada majelis ta'lim, ada pengajian.
Kita ingin orang tua-tua salat berjamaah.
Kita ingin orang-orang yang menyumbang mendapatkan pahala.
Dan kita ingin ketika suatu hari nanti sudah tiada, masih ada sesuatu yang mengalir, karena pernah membantu untuk kemaslahatan bersama, sebagai amal jariah yang tidak pernah putus pahalanya.
Mungkin itu. Tidak terlalu istimewa.
______
Huuuuuuuuuuuff...!
Ada masa ketika kita begitu sibuk menilai orang lain, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri.
Saya pernah berada di masa itu.
Ketika melihat sesuatu yang menurut saya tidak benar, hati saya cepat bereaksi.
"Ini tidak boleh."
"Ini tidak etis."
"Ini tidak pantas."
Kalimat-kalimat seperti itu mudah sekali muncul.
Apalagi ketika menyangkut uang.
Apalagi ketika menyangkut amanah.
Apalagi ketika yang terlibat adalah bantuan untuk orang yang sedang membutuhkan.
Namun setelah peristiwa itu terjadi di Bukik Limau, saya mulai belajar memperlambat penilaian.
Bukan berarti saya membenarkan sesuatu yang menurut saya salah.
Bukan pula berarti saya harus diam.
Tetapi saya mulai memahami bahwa antara melihat sesuatu dan memahami seluruh persoalannya terdapat jarak yang kadang sangat jauh.
Saya mengenal Pak Tang bukan sehari dua hari.
Ada banyak hal yang membuat saya kecewa.
Ada pula banyak hal yang pernah membuat saya merasa bangga.
Saya tidak bisa menghapus salah satunya hanya karena yang lain membuat hati saya terluka.
Manusia memang begitu.
Tidak ada orang yang seluruh hidupnya hanya terdiri dari keburukan.
Dan tidak ada pula manusia biasa yang seluruh hidupnya hanya terdiri dari kebaikan.
Saya pun demikian.
Jika tulisan ini hanya menceritakan kesalahan orang lain, tetapi tidak berani melihat kekurangan diri sendiri, maka tulisan ini tidak lebih dari sebuah pembelaan diri yang panjang.
Saya ingin jujur menuliskan. Jujur kepada diri sendiri.
Jangan sampai ketika Allah memperlihatkan aib orang lain kepada kita, lalu kita lupa pula bahwa kita pun mempunyai aib yang sedang Allah tutupi.
Sebab saya pun manusia.
Saya juga pernah salah. Pernah keliru membaca keadaan. Pernah terlalu cepat mengambil keputusan. Pernah kecewa. Pernah marah. Bahkan mungkin, dalam beberapa keadaan, saya sendiri pernah melakukan sesuatu yang tanpa saya sadari melukai orang lain.
Di sinilah saya teringat sebuah hikmah Ibn ‘Athaillah al-Sakandari dalam kitab Tashauf Hikam yang diajarkan guru ketika duduk di kelas tujuh Ponpes MTI Canduang dulu:
Ù…ِÙ†ْ عَلامَاتِ الاعْتِÙ…َادِ عَÙ„َÙ‰ العَÙ…َÙ„ِ Ù†ُÙ‚ْصَانُ الرَّجَاءِ عِÙ†ْدَ Ùˆُجُودِ الزَّÙ„َÙ„ِ
“Di antara tanda seseorang bersandar kepada amalnya adalah berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kesalahan.”
Saya membacanya bukan untuk menilai siapa-siapa. Itu untuk menilai diri saya sendiri.
Sebab boleh jadi, ketika saya sedang sibuk menghitung kesalahan orang lain, Allah justru sedang mengajak saya menghitung kesalahan saya sendiri.
Dan boleh jadi, ketika saya merasa telah berbuat benar, Allah sedang mengingatkan bahwa kebenaran tidak pernah menjadi alasan bagi seorang hamba untuk merasa lebih tinggi daripada hamba yang lain.
Maka saya ingin berhati-hati.
Saya boleh menceritakan apa yang saya alami.
Saya boleh mengatakan apa yang membuat saya kecewa.
Saya boleh mempertanyakan sesuatu yang menurut saya tidak benar.
Tetapi saya tidak ingin menjadikan tulisan ini sebagai panggung untuk mengangkat diri saya sendiri.
Sebab saya juga masih belajar menjadi Al-Amin—orang yang dapat dipercaya.
Saya kemudian bertanya:
Mengapa selama bertahun-tahun saya terus bersedia membantu?
Bukankah saya sudah beberapa kali merasa tidak nyaman, dan bisa jadi, akan terus berdatangan ketidak nyamanan lainnya?
Bukankah saya pernah mengatakan bahwa saya bukan anak buah siapa pun?
Bukankah saya pernah merasa bahwa pekerjaan yang saya lakukan terlalu banyak dan menambah kesibukan?
Mengapa saya tetap hadir?
Mengapa saya tetap bersedia membantu membuat ajuan proposal?
Mengapa saya tetap menghadiri acara?
Mengapa saya tetap membantu mendokumentasikan?
Mengapa saya tetap menjadi orang yang berada di tengah?
Jawabannya mungkin karena saya ingin mushalla itu berdiri.
Saya ingin masyarakat mendapatkan bantuan.
Saya ingin pekerjaan yang saya lakukan bermanfaat.
Tetapi ada jawaban lain yang lebih dalam.
Mungkin juga karena saya merasa senang ketika merasa dibutuhkan.
Kalimat itu tidak mudah saya akui.
Namun semakin saya renungkan, semakin saya merasa bahwa manusia harus berani mengenali sisi dirinya sendiri.
Ketika seseorang berkata:
"Malin, tolong bantu."
Ada rasa senang di dalam hati.
Bukan karena uang.
Bukan karena jabatan.
Tetapi karena merasa kemampuan kecil yang Allah berikan itu ternyata berguna untuk mengangkat diri saya.
Dan itu membuat saya merasa besar dalam pandangan diri saya, di tengah-tengah pandangan keluarga, ada teman, ada tetangga, ada mertua, ada saudara, ada sepupu istri saya memandang remeh terhadap diri saya yang tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya status ekonomi yang matang, hidup mengandalkan istri. Na'udzubillah... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Bukankah itu juga bentuk ego yang sangat halus?
Saya tidak tahu.
Mungkin iya.
Dan kalau iya, saya harus mengakuinya.
Sebab kesombongan tidak selalu berbentuk seseorang yang berdiri di atas panggung sambil membanggakan dirinya.
Kadang kesombongan bisa bersembunyi di balik kalimat:
"Saya hanya ingin membantu."
Kita kembali belajar bahwa keikhlasan juga perlu diperiksa.
Kita bisa membantu orang lain dengan niat yang baik, tetapi tanpa sadar kemudian hari kita mulai merasa memiliki hak atas urusan yang kita bantu.
Kita bisa berkata:
"Saya hanya membantu."
Tetapi setelah berkali-kali dilibatkan, kita mulai merasa:
"Saya sudah banyak membantu."
Lalu hati perlahan mengharapkan penghargaan, pujian, decak kagum, like, subscribe, follow, komentar dan share.
Tidak selalu uang.
Bisa berupa ucapan terima kasih.
Bisa berupa pengakuan.
Bisa berupa penghormatan.
Bisa pula berupa perasaan bahwa pendapat kita harus didengar.
Manusia memang rumit.
Bahkan amal yang tampak sederhana pun bisa bercampur dengan keinginan-keinginan ria, 'ujub, sum'ah yang tidak kita sadari.
Karena itu kita khawatir kepada diri sendiri. Malu kepada Allah.
Bukan segan kepada Pak Tang.
Bukan pula segan kepada bosnya.
Bukan mempertimbangkan suatu lembaga.
Tetapi takut kalau-kalau saya menulis tentang amanah, sementara diri kita sendiri belum selesai belajar tentang amanah itu.
Di situlah kita mulai membedakan tiga hal.
Apa yang saya lihat.
Apa yang saya dengar.
Dan apa yang saya simpulkan.
Tiga hal itu tidak boleh dicampur.
Kalau kita melihat sendiri seseorang mengatakan sesuatu kepada kita, kita boleh menceritakan pengalaman itu.
Kalau seseorang menceritakan sesuatu kepada kita tentang orang lain, kita harus menyebutnya sebagai informasi yang saya dengar.
Dan kalau kita mempunyai kesimpulan pribadi, kita harus jujur mengatakan bahwa itu adalah penilaian saya.
Kelihatannya biasa.
Tetapi ternyata prinsip ini sangat besar faedahnya.
Terutama bagi seorang jurnalis.
Sebab satu kalimat yang ditulis tanpa kehati-hatian dapat merusak nama seseorang.
Satu tuduhan yang ditulis sebagai fakta dapat berubah menjadi fitnah.
Dan sekali sebuah tulisan tersebar, kita tidak bisa menariknya kembali dari setiap kepala orang yang sudah membacanya.
Saya mulai memahami bahwa menjaga nama baik orang lain bukan berarti membiarkan kesalahan.
Sebaliknya, mengkritik kesalahan juga tidak harus dilakukan dengan menghancurkan martabat seseorang.
Kebenaran tidak membutuhkan penghinaan untuk menjadi benar.
Mengenai peristiwa pengembalian amplop itu.
Saya tetap tidak akan menerimanya.
Saya merasa keputusan itu benar bagi saya.
Tetapi saya tidak ingin menjadikan keputusan itu sebagai alasan untuk menganggap diri saya lebih suci daripada orang lain.
Saya menolak uang itu karena prinsip saya.
Bukan karena saya lebih baik.
Saya hanya sedang berusaha menjaga batas yang saya yakini.
Barangkali orang lain mempunyai pemahaman dan batas yang berbeda.
Barangkali ada konteks yang belum saya ketahui.
Barangkali ada sistem yang selama ini tidak saya pahami.
Barangkali ada tekanan yang saya tidak rasakan.
Barangkali ada kebiasaan dan Kulikaik yang tidak saya ketahui.
Saya tidak tahu.
Dan karena saya tidak tahu, saya harus berhati-hati.
Begitu pula dengan Human Initiative.
Saya mulai memisahkan lembaga dari orang-orang yang bekerja di dalam atau di sekitarnya.
Sebuah lembaga tidak boleh dihukum hanya karena tindakan satu orang.
Begitu pula seseorang tidak boleh langsung dianggap buruk hanya karena bekerja dalam sebuah sistem yang sedang menghadapi masalah.
Kalau ada persoalan, persoalannya harus dicari.
Kalau ada kesalahan, kesalahannya harus dibuktikan.
Kalau ada mekanisme yang kurang baik, mekanismenya harus diperbaiki.
Bukan semua orang kemudian dicurigai.
Saya merasa cara berpikir seperti ini jauh lebih sehat.
Dan mungkin lebih dekat dengan keadilan.
Saya kemudian teringat satu hal yang sering saya ajarkan kepada anak-anak mengaji:
Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati.
Kalimat itu tiba-tiba terasa berbeda ketika kita ucapkan kepada diri sendiri.
Jika Allah mengetahui hati, tentunya kita tidak perlu lagi terlalu sibuk menjelaskan tentang diri sendiri kepada siapa pun.
Jika itu benar, biarlah tulisan ini menemukan jalannya.
Jika salah, semoga Allah menunjukkannya kepada saya.
Jika Pak Tang salah, semoga Allah memberinya petunjuk dan Hidayah kepadanya, membimbing jalan hidupnya.
Jika saya salah memahami, semoga Allah juga mengoreksi saya.
Jika ada kesalahan dalam sistem, semoga orang-orang yang mempunyai kewenangan memperbaikinya.
Dan jika ternyata sebagian kegelisahan saya hanyalah prasangka, semoga Allah membersihkan hati saya darinya.
Doa itu terasa jauh lebih menenangkan daripada kemarahan.
Saat ini, kita telah memandang perjalanan ini dengan cara yang berbeda.
Kita tidak lagi ingin menjadi orang yang paling cepat menuduh.
Kita ingin menjadi orang yang paling hati-hati ketika berbicara tentang orang lain.
Namun kita tidak ingin pula menutup mata terhadap kesalahan.
Tetapi kita juga tidak ingin membesar-besarkannya.
Kita tidak ingin membela seseorang karena kedekatan.
Kita juga tidak ingin menyerang seseorang karena kekecewaan.
Kita ingin berdiri di tengah-tengah.
Bukan karena kita tidak punya sikap.
Tetapi beginilah sikap kita sejatinya, berdiri di atas kebenaran.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang kita dapatkan dari proyek yang belum selesai ini.
Sebuah mushalla memang belum berdiri.
Tetapi sesuatu sedang dibangun di dalam diri.
Kesadaran bahwa menjaga amanah tidak hanya berarti menjaga uang, dokumen, tanah, atau proyek.
Menjaga amanah juga berarti menjaga lidah.
Menjaga tulisan.
Menjaga penilaian.
Menjaga prasangka.
Dan terutama...
menjaga hati kita.
Kita belum tahu bagaimana akhir proyek Masjid Ali bin Abi Thalib nantinya.
Tetapi kita mulai mengerti bahwa perjalanan ini ternyata tidak hanya sedang membangun sebuah maushalla.
Allah sedang menggunakannya untuk membangun sesuatu di dalam diri kita.
Dan mungkin...
itulah bangunan yang jauh lebih penting.
"Hati Sanubari yang bersih. "
Astaghfirullah.... Walhamdu lillah.. (menangis.... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜)
***
- Prolog
- BAB 1 - Orang yang Membawa Harapan
- BAB 2 - Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri
- BAB 3 - Menjadi "Orang Human Initiative" Tanpa Pernah Diangkat
- BAB 4 - Empat Tahun Menunggu
- BAB 5 - Deadline Lima Hari
- BAB 6 - Amplop Lima Ratus Ribu
- BAB 7 - Setelah Batu Pertama Diletakkan
- BAB 8 - Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Sendiri



Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.