-->
Telusuri
24 C
id
  • Homepage
  • Tentang Saya
  • Kontak
Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Kategori Postingan
    • Artikel
    • Khazanah Islam
    • Kisah-Kisah
    • Video
    • Photo
  • Photo
    • Video
  • Arsip Lama
  • Video
  • Featured
    • Koleksi Situs Berita
    • Home - Akad Nikah Nursakdiyah
    • Aksi Tanggap Bencana
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • Tutorial PemogramanNew
Telusuri
Beranda Dibalik Batu Pertama Feature Feature - Dibalik Batu Pertama 8
Dibalik Batu Pertama Feature

Feature - Dibalik Batu Pertama 8

Fitra Yadi
Fitra Yadi
12 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

DI BALIK BATU PERTAMA

Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan

Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato



BAB 7

Setelah Batu Pertama Diletakkan

Sabtu, 25 Juli 2026, batu pertama telah diletakkan.

Doa telah dibacakan.

Harapan telah disampaikan.

Orang-orang pulang dengan keyakinan bahwa pembangunan Masjid Ali bin Abi Thalib akan segera bergerak.

Saya pun berpikir demikian.

Bukankah beberapa hari sebelumnya Pak Tang sudah menyampaikan bahwa proyek ini harus segera dimulai?

Bukankah laporan kepada pusat harus segera masuk hari Senin, 27 Juli 2026?

Bukankah deadline begitu ketat?

Maka saya membayangkan, setelah acara peletakan batu pertama, akan segera datang tukang.

Akan ada pengukuran.

Pemancangan.

Pembelian material.

Pekerjaan pondasi.

Sedikit demi sedikit, tanah kosong itu akan berubah menjadi bangunan.

Ada sesuatu yang ganjil setelah sebuah acara besar selesai.

Spanduk proyek masih tergantung.

Foto-foto masih tersimpan di telepon genggam.

Orang-orang masih membicarakan sambutan dan siapa saja yang hadir.

Nama-nama tokoh masih disebut.

Masyarakat masih bergotong-royong membongkar dan memindahkan pondok Bata Rozi. 

Tetapi ketika para tamu pulang, ketika kursi-dan meja dikembalikan, ketika pengeras suara sudah kehabisan batrai, sebuah pertanyaan lumrah mulai terdengar:

Lalu kapan pembangunannya dimulai pak Malin?

Begitulah yang terdengar di dusun Bukik Limau.

Tetapi hari-hari berikutnya berlalu.

Tidak ada tukang.

Tidak ada pemancangan.

Tidak ada pekerjaan sebagaimana yang dibayangkan.


Ketika acara peletakan batu pertama berlangsung, Pak Tang pernah menyampaikan bahwa pada Rabu, 29 Juli, akan dilakukan pemancangan dan pengukuran.

Panitia menunggu tanggal itu.

Rabu pun datang.

Lalu berlalu begitu saja. 

Tanah wakaf itu masih seperti sebelumnya.

Lubang bekas Lumpua untuk dicetak menjadi bata masih terlihat, bahkan sudah dilapisi pula oleh lumpur baru yang berasal dari galian selokan akibat banjir besar yang terjadi pada malam petang Selasa, 28 Juli 2026.

Sebagian batu basah masih dibandreng di sekeliling lahan. 

Rozi masih bergulat dengan urusan pemindahan batu Batanya ke Pondok Ize abangnya.

Dan masyarakat mulai bertanya.

Saya tidak punya jawaban.

Sebab saya juga menunggu.

Saya bukan pelaksana proyek.

Saya bukan pemegang dana.

Saya bukan orang yang menentukan kapan tukang bekerja.

Tetapi karena sejak awal saya ikut membantu mengisi ajuan proposal, ikut memfasilitasi pertemuan, ikut hadir dalam rapat, dan bahkan berdiri di depan masyarakat bersama Pak Tang, pertanyaan itu akhirnya ikut mengarah kepada saya.

"Malin, bagaimana kelanjutannya?"

Saya hanya bisa menjawab:

"Tunggu dulu. Saya coba cari informasi."

Begitulah.

Kadang-kadang orang yang menjadi jembatan ikut terkena beban dari kedua sisi.

Ketika bantuan belum datang, penerima manfaat bertanya kepada jembatan.

Ketika administrasi belum lengkap, pelaksana juga mencari jembatan.

Padahal jembatan tidak memiliki rumah di kedua tepi sungai.

Ia hanya membantu orang menyeberang.


Saya mulai menyadari bahwa posisi saya selama ini memang aneh.

Saya bukan orang Human Initiative.

Tetapi masyarakat menganggap saya bagian dari mereka.

Saya bukan Mitra PI.

Tetapi karena saya sering membantu proyek yang mereka kerjakan, saya ikut terseret ketika ada masalah.

Saya bukan pelaksana.

Tetapi saya ikut ditanya tentang pekerjaan.

Saya bukan pemegang uang.

Tetapi saya pernah diminta menerima amplop.

Saya bukan anak buah Pak Tang.

Tetapi saya pernah dimarahi ketika menolak uang yang tidak ingin saya terima.

Di titik itu saya mulai bertanya kepada diri sendiri:

Sebenarnya saya ini siapa dalam semua urusan ini?

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya ternyata tidak sederhana.

Saya adalah orang yang terlalu lama berdiri di tengah.


Saya teringat kembali perjalanan saya bersama Pak Tang.

Sudah bertahun-tahun saya mengenalnya.

Ada banyak hal yang saya lihat sendiri.

Ada pula cerita yang saya dengar dari orang lain.

Tentang proyek-proyek yang pernah dikerjakan.

Tentang tukang.

Tentang toko material.

Tentang panitia.

Tentang utang.

Tentang hubungan kerja.

Sebagian cerita itu tidak pernah saya saksikan sendiri, sehingga saya tidak ingin menjadikannya sebagai kebenaran yang sudah pasti.

Saya hanya bisa mengatakan:

saya pernah mendengarnya.

Dan sebagai seorang jurnalis, saya tahu betul perbedaannya.

Apa yang saya lihat adalah pengalaman.

Apa yang saya dengar dari orang lain adalah informasi yang masih harus diperiksa.

Prinsip itu penting.

Sebab ketika seseorang sedang kecewa, sangat mudah baginya merubah cerita menjadi seolah-olah fakta.

Saya tidak ingin melakukan itu.

Saya ingin tulisan ini menjadi kesaksian tentang perjalanan saya, bukan pengadilan terhadap seseorang.

Namun demikian, cerita-cerita yang saya dengar tetap membuat saya lebih berhati-hati.

Terlebih setelah saya mengalami sendiri persoalan amplop tersebut.

Sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi kegelisahan di dalam hati, perlahan berubah menjadi pertanyaan yang lebih serius.


Pada malam Jumat, 7 Agustus 2026, beberapa pengurus memanggil saya bertemu di Surau TPQ Al-Amin Bukik Limau.

Mereka ingin berbicara tentang kelanjutan proyek.

Saya datang.

Wajah-wajah yang saya kenal duduk dengan keresahan masing-masing.

Mereka tidak sedang mencari musuh.

Mereka sedang mencari kepastian.

Masyarakat sudah terlanjur berharap.

Acara peletakan batu pertama sudah dilaksanakan.

Undangan sudah datang.

Tokoh masyarakat sudah hadir.

Nama Human Initiative sudah disebut.

Nama Mitra Initiative sudah disebut.

Nama Pak Tang sudah disebut.

Sekarang masyarakat ingin melihat apa yang dijanjikan itu menjadi kenyataan.

Namun yang muncul justru pertanyaan:

"Apakah proyek ini benar-benar akan dilanjutkan?"

"Kenapa belum ada pekerjaan?"

"Kenapa belum ada tukang?"

"Kalau bisa, apakah pelaksananya dapat diganti?"

Saya mendengarkan semuanya.

Tidak langsung menjawab.

Sebab saya tahu, mengganti seseorang bukan perkara sederhana.

Ada sistem.

Ada penunjukan.

Ada hubungan kerja.

Ada tanggung jawab.

Ada lembaga yang harus mengambil keputusan.

Saya bukan orang yang berhak menentukan.

Tetapi saya juga tidak bisa mengabaikan suara masyarakat.

Mereka adalah penerima manfaat.

Mereka yang kelak akan menggunakan mushalla itu.

Mereka pula yang akan hidup bersama bangunan tersebut setelah semua orang pulang.


Di tengah pembicaraan itu, saya teringat satu hal.

Mushalla adalah bangunan yang unik.

Ketika belum ada, semua orang ingin membangunnya.

Ketika mulai dibangun, semua orang ingin cepat selesai.

Tetapi setelah selesai, tidak semua orang datang untuk memakmurkannya.

Maka sebenarnya pembangunan mushalla itu mempunyai beberapa tahap.

Tahap pertama adalah membangun dinding.

Tahap kedua adalah membangun manusia.

Tahap kedua jauh lebih panjang.

Dan mungkin justru karena itulah proses menuju tahap pertama pun seharusnya dilakukan dengan penuh amanah.

Saya tidak ingin mushalla itu berdiri di Bukik Limau di atas rasa kecewa.

Saya ingin ia berdiri di atas gotong royong.

Saya ingin ada pengajian di sana.

Saya ingin orang tua salat berjamaah.

Saya ingin suara azan terdengar dari tempat itu.

Saya ingin, suatu hari nanti, ketika saya lewat di jalan depan tanah wakaf itu, saya berkata dalam hati:

"Dulu saya pernah ikut membuat proposalnya."

Lalu saya tersenyum.

Bukan karena merasa berjasa.

Tetapi karena pernah menjadi bagian kecil dari sesuatu yang bermanfaat.

Itulah harapan saya.

Sederhana.


Tetapi di malam itu, saya mulai menyadari bahwa persoalan pembangunan bukan hanya soal bangunan.

Ada persoalan kepercayaan.

Ketika masyarakat mulai tidak percaya kepada pelaksana, pekerjaan sebaik apa pun akan terasa berat.

Dan ketika kepercayaan mulai retak, seorang jembatan seperti saya tidak mungkin terus berdiri di tengah tanpa akhirnya ikut terluka.

Saya pulang malam itu dengan kepala penuh pertanyaan.

Di rumah, saya membuka kembali foto-foto peletakan batu pertama.

Saya melihat wajah-wajah yang tersenyum.

Melihat batu yang diletakkan.

Melihat spanduk.

Melihat masyarakat.

Saya memperbesar salah satu foto.

Kemudian saya terdiam.

Di dalam foto itu semua orang tampak bahagia.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian.

Begitulah foto.

Ia hanya menyimpan satu detik.

Tidak menyimpan kegelisahan sebelum kamera ditekan.

Tidak menyimpan persoalan setelah kamera dimatikan.

Tidak menyimpan percakapan yang terjadi di belakang panggung.

Tidak menyimpan hati manusia.

Saya kemudian menutup smartphone.

Dan untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai, saya bertanya kepada diri sendiri dengan sungguh-sungguh:

"Malin, sampai di mana kamu harus membantu?"

Pertanyaan itu tidak langsung menemukan jawabannya.

Tetapi saya tahu, saya sedang mendekati sebuah persimpangan.

Di satu jalan ada keinginan untuk tetap membantu agar mushalla itu berdiri.

Di jalan yang lain ada kewajiban menjaga prinsip agar bantuan tidak mengorbankan amanah.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam perjalanan saya bersama proyek-proyek kemanusiaan, saya harus belajar bahwa:

Membantu tidak selalu berarti mengikuti.

Kadang-kadang, membantu justru berarti berani mengatakan:

"Tidak."

Dan perjalanan saya bersama Pak Tang belum selesai.

Justru setelah batu pertama diletakkan, saya mulai melihat cerita ini dari sisi yang sama sekali berbeda.

***


DAFTAR ISI:

  1. Prolog
  2. BAB 1 - Orang yang Membawa Harapan
  3. BAB 2 - Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri
  4. BAB 3 - Menjadi "Orang Human Initiative" Tanpa Pernah Diangkat
  5. BAB 4 - Empat Tahun Menunggu
  6. BAB 5 - Deadline Lima Hari
  7. BAB 6 - Amplop Lima Ratus Ribu
  8. BAB 7 - Setelah Batu Pertama Diletakkan
  9. BAB 8 - Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Sendiri



Via Dibalik Batu Pertama
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Fitra Yadi
Fitra Yadi Guru, jurnalis, aktifis

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement
Fitra Yadi Malin Parmato
Lihat Tentang saya
 


Tutorial Edit Video

Kdenlive - Freedom Video Editing


Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

Feature - Dibalik Batu Pertama 9

Fitra Yadi- 22.51 0
Feature - Dibalik Batu Pertama 9
DI BALIK BATU PERTAMA Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato BAB 8 Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Send…

Most Popular

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

23.37
Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

22.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 2

Feature - Dibalik Batu Pertama 2

21.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 7

Feature - Dibalik Batu Pertama 7

08.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 5

Feature - Dibalik Batu Pertama 5

13.27
Feature - Dibalik Batu Pertama 1

Feature - Dibalik Batu Pertama 1

19.38
Feature - Dibalik Batu Pertama 3

Feature - Dibalik Batu Pertama 3

23.48

Recent Comments

Follow Us On Instagram @fitrayadi1980

Fitra Yadi Malin Parmato

About Us

Saya seorang Kepala Keluarga, Pendidik, Da'i - Muballigh, Jurnalis, petani, aktifis sosial dan kemanusiaan

Selengkapnya: Tentang Saya

Follow Us

© Layout by Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak