Dibalik Batu Pertama
Feature
Fitra Yadi
Headlines
Kisah
Peristiwa
Feature Dibalik Batu Pertama 1
DI BALIK BATU PERTAMA
Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan
Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato
![]() |
| Saya F. Malin Parmato (kiri) ketika duduk setelah shalat di Surau Al-Amin Bukit Limau |
Prolog
Bau asap tungku pembakaran bata selalu punya cara sendiri menyambut siapa pun yang memasuki Dusun Bukik Limau.
Asap itu menempel di pakaian. Menyelinap ke rambut. Meresap ke kulit. Tak peduli seseorang baru selesai mandi, baru pulang dari sawah, atau baru turun dari kendaraan yang mengilap. Baru keluar dari Lubang Rancah, baru keluar dari mencetak Bata, baru selesai membersihkan abu sakam atau baru keluar dari ruang kantor ber AC. Ketika memasuki kampung itu, semua orang akan membawa aroma yang sama.
![]() |
| Pondok-pondok Batu Bata di Dusun Bukit Limau, jorong Sarilamak, nagari Sarilamak, kecamatan Harau |
Bagi warga Bukik Limau, itulah bau kehidupan.
Di sanalah ribuan batu bata lahir dari tanah yang diinjak-injak dulu pakai kaki Kerbau dan juga kaki manusia di Lubang Rancah sebelum dicetak.
Tak pernah terlintas di benak saya bahwa suatu hari nanti, di antara kepulan asap tungku itu, saya akan belajar satu pelajaran besar tentang amanah. Amanah dalam memegang kepercayaan, amanah dalam keuangan, amanah dengan idealisme, amanah dengan diri sendiri.
Saya bukan pegawai Human Initiative.
Saya bukan relawan Mitra PI.
Saya juga bukan kontraktor.
Saya hanyalah seorang guru mengaji yang sesekali terjun menjadi jurnalis, menulis berita online tentang kegiatan sosial, budaya, pendidikan, keagamaan. Membantu membuat proposal, mendokumentasikan peletakan batu pertama, lalu pulang membawa rasa syukur karena melihat banyak masjid berdiri di pelosok kampung.
Saya mengenal Pak Tang (51 Th.) bertahun-tahun lalu.
Waktu itu saya melihat beliau sebagai orang yang memiliki akses kepada lembaga kemanusiaan yang sering menyalurkan bantuan pembangunan masjid. Banyak kampung mengenalnya. Banyak nagari yang berharap bagaimana ajuan proposal mereka bisa sampai ke Human Initiative melalui beliau.
Ketika ada warga yang ingin mengajukan pembangunan masjid, sering kali mereka diarahkan kepada saya.
"Temui dulu Malin. Nanti proposal ajuannya Malin bisa membuatkan."
Begitulah kira-kira pesan yang sering disampaikan kepada calon penerima manfaat.
Akhirnya saya ikut membantu.
Menjadi fotografer.
Menjepret foto calon lokasi.
Menyusun gambar.
Mengisi formulir.
Mengirim email.
Menjadi penulis berita.
Kadang menjadi pembicara berpidato mewakili Lembaga Donor dalam peletakan Batu Pertama dan meresmikan pada saat acara peresmian bangunan.
Kadang pula diminta memberi sambutan sebagai wakil Human Initiative, padahal saya sama sekali bukan bagian dari lembaga itu.
Semua saya lakukan tanpa pernah menghitung berapa nilai pekerjaan tersebut.
Bagi saya, jika sebuah masjid bisa berdiri karena sedikit kemampuan yang Allah titipkan kepada saya, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Sudah 8 tahun berlalu sejak 20 Januari tahun 2018, sudah belasan ajuan yang saya kirim, sudah banyak pula yang diterima. Namun perlahan saya mulai melihat sisi lain yang tidak pernah tampak ketika kamera sedang memotret senyum pada acara peresmian.
Saya mulai melihat bahwa membangun masjid ternyata bukan hanya soal semen, pasir, dan batu.
Ada ego.
Ada tekanan.
Ada target.
Ada utang.
Ada negosiasi.
Ada kepentingan.
Dan yang paling berat, ada hati manusia yang sedang diuji.
Suatu hari saya mulai bertanya kepada diri sendiri.
Apakah saya sedang membantu dakwah?
Ataukah saya sedang membantu sebuah sistem yang mulai kehilangan ruhnya?
Pertanyaan itulah yang akhirnya membawa saya ke sebuah sore yang penuh asap tungku batu bata.
Sore ketika Pak Tang datang membawa kabar bahwa proyek pembangunan masjid di Dusun Bukit Limau harus dimulai dalam hitungan hari.
Saya belum tahu, bahwa sejak hari itu, hidup saya akan dipenuhi oleh serangkaian peristiwa yang membuat saya memandang amanah dari sudut yang sama sekali berbeda.
Semuanya bermula dari sebidang tanah wakaf kecil di Dusun Bukik Limau.
Dan sebuah batu pertama yang ternyata menyimpan begitu banyak cerita.
Saya ingin menceritakannya kepada Anda dengan sangat serius. Dari semua pengalaman saya selama ini, tentang masjid, mushalla, wakaf, media, dan sekarang proyek pembangunan.
Ini bukan sekadar menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi refleksi tentang bagaimana amanah diuji ketika bertemu dengan sistem, target, dan kepentingan.
Saya akan menceritakan perlahan-lahan, bab demi bab. Dengan begitu, setiap bab dapat dirasakan akurat, berimbang, dan enak dibaca. Saya ingin cerita ini tetap bernilai sastra sekaligus bertanggung jawab secara jurnalistik.
Lanjut baca >>>




Semangat terus dalam kebaikan, semoga pak Malin menjadi manusia yang selalu bermanfaat untuk orang lain .
BalasHapus