-->
Telusuri
24 C
id
  • Homepage
  • Tentang Saya
  • Kontak
Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Kategori Postingan
    • Artikel
    • Khazanah Islam
    • Kisah-Kisah
    • Video
    • Photo
  • Photo
    • Video
  • Arsip Lama
  • Video
  • Featured
    • Koleksi Situs Berita
    • Home - Akad Nikah Nursakdiyah
    • Aksi Tanggap Bencana
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • Tutorial PemogramanNew
Telusuri
Beranda Dibalik Batu Pertama Feature Fitra Yadi Headlines Kisah Peristiwa Feature Dibalik Batu Pertama 1
Dibalik Batu Pertama Feature Fitra Yadi Headlines Kisah Peristiwa

Feature Dibalik Batu Pertama 1

Fitra Yadi
Fitra Yadi
09 Agu, 2026 1 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

DI BALIK BATU PERTAMA

Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan

Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato

Saya F. Malin Parmato (kiri) ketika duduk setelah shalat di Surau Al-Amin Bukit Limau

Prolog

Bau asap tungku pembakaran bata selalu punya cara sendiri menyambut siapa pun yang memasuki Dusun Bukik Limau.

Asap itu menempel di pakaian. Menyelinap ke rambut. Meresap ke kulit. Tak peduli seseorang baru selesai mandi, baru pulang dari sawah, atau baru turun dari kendaraan yang mengilap. Baru keluar dari Lubang Rancah, baru keluar dari mencetak Bata, baru selesai membersihkan abu sakam atau baru keluar dari ruang kantor ber AC. Ketika memasuki kampung itu, semua orang akan membawa aroma yang sama.

Pondok-pondok Batu Bata di Dusun Bukit Limau, jorong Sarilamak, nagari Sarilamak, kecamatan Harau

Bagi warga Bukik Limau, itulah bau kehidupan.

Di sanalah ribuan batu bata lahir dari tanah yang diinjak-injak dulu pakai kaki Kerbau dan juga kaki manusia di Lubang Rancah sebelum dicetak.

Tak pernah terlintas di benak saya bahwa suatu hari nanti, di antara kepulan asap tungku itu, saya akan belajar satu pelajaran besar tentang amanah. Amanah dalam memegang kepercayaan, amanah dalam keuangan, amanah dengan idealisme, amanah dengan diri sendiri.

Saya bukan pegawai Human Initiative.

Saya bukan relawan Mitra PI.

Saya juga bukan kontraktor.

Saya hanyalah seorang guru mengaji yang sesekali terjun menjadi jurnalis, menulis berita online tentang kegiatan sosial, budaya, pendidikan, keagamaan. Membantu membuat proposal, mendokumentasikan peletakan batu pertama, lalu pulang membawa rasa syukur karena melihat banyak masjid berdiri di pelosok kampung.

Saya mengenal Pak Tang (51 Th.) bertahun-tahun lalu.

Waktu itu saya melihat beliau sebagai orang yang memiliki akses kepada lembaga kemanusiaan yang sering menyalurkan bantuan pembangunan masjid. Banyak kampung mengenalnya. Banyak nagari yang berharap bagaimana ajuan proposal mereka bisa sampai ke Human Initiative melalui beliau.

Ketika ada warga yang ingin mengajukan pembangunan masjid, sering kali mereka diarahkan kepada saya.

"Temui dulu Malin. Nanti proposal ajuannya Malin bisa membuatkan."

Begitulah kira-kira pesan yang sering disampaikan kepada calon penerima manfaat.

Akhirnya saya ikut membantu.

Menjadi fotografer.

Menjepret foto calon lokasi.

Menyusun gambar.

Mengisi formulir.

Mengirim email.

Menjadi penulis berita.

Kadang menjadi pembicara berpidato mewakili Lembaga Donor dalam peletakan Batu Pertama dan meresmikan pada saat acara peresmian bangunan.

Kadang pula diminta memberi sambutan sebagai wakil Human Initiative, padahal saya sama sekali bukan bagian dari lembaga itu.

Semua saya lakukan tanpa pernah menghitung berapa nilai pekerjaan tersebut.

Bagi saya, jika sebuah masjid bisa berdiri karena sedikit kemampuan yang Allah titipkan kepada saya, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Sudah 8 tahun berlalu sejak 20 Januari tahun 2018, sudah belasan ajuan yang saya kirim, sudah banyak pula yang diterima. Namun perlahan saya mulai melihat sisi lain yang tidak pernah tampak ketika kamera sedang memotret senyum pada acara peresmian.

Saya mulai melihat bahwa membangun masjid ternyata bukan hanya soal semen, pasir, dan batu.

Ada ego.

Ada tekanan.

Ada target.

Ada utang.

Ada negosiasi.

Ada kepentingan.

Dan yang paling berat, ada hati manusia yang sedang diuji.

Suatu hari saya mulai bertanya kepada diri sendiri.

Apakah saya sedang membantu dakwah?

Ataukah saya sedang membantu sebuah sistem yang mulai kehilangan ruhnya?

Pertanyaan itulah yang akhirnya membawa saya ke sebuah sore yang penuh asap tungku batu bata.

Sore ketika Pak Tang datang membawa kabar bahwa proyek pembangunan masjid di Dusun Bukit Limau harus dimulai dalam hitungan hari.

Saya belum tahu, bahwa sejak hari itu, hidup saya akan dipenuhi oleh serangkaian peristiwa yang membuat saya memandang amanah dari sudut yang sama sekali berbeda.

Semuanya bermula dari sebidang tanah wakaf kecil di Dusun Bukik Limau.

Dan sebuah batu pertama yang ternyata menyimpan begitu banyak cerita.

Saya ingin menceritakannya kepada Anda dengan sangat serius. Dari semua pengalaman saya selama ini, tentang masjid, mushalla, wakaf, media, dan sekarang proyek pembangunan.

Ini bukan sekadar menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi refleksi tentang bagaimana amanah diuji ketika bertemu dengan sistem, target, dan kepentingan.

Saya akan menceritakan perlahan-lahan, bab demi bab. Dengan begitu, setiap bab dapat dirasakan akurat, berimbang, dan enak dibaca. Saya ingin cerita ini tetap bernilai sastra sekaligus bertanggung jawab secara jurnalistik.

Lanjut baca >>>
  1. BAB 1 - Orang yang Membawa Harapan
  2. BAB 2 - Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri

  3. .


Via Dibalik Batu Pertama
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Fitra Yadi
Fitra Yadi Guru, jurnalis, aktifis

Anda mungkin menyukai postingan ini

1 komentar

  1. AnonimSenin, Agustus 10, 2026 7:43:00 PM

    Semangat terus dalam kebaikan, semoga pak Malin menjadi manusia yang selalu bermanfaat untuk orang lain .

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement
Fitra Yadi Malin Parmato
Lihat Tentang saya
 


Tutorial Edit Video

Kdenlive - Freedom Video Editing


Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

Feature Dibalik Batu Pertama 3

Fitra Yadi- 23.48 0
Feature Dibalik Batu Pertama 3
DI BALIK BATU PERTAMA Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato Warga dusun Bukik Limau ketika membongkar muat Ba…

Most Popular

Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

Ketika Algoritma Menghapus Media Kami

22.44
Feature Dibalik Batu Pertama 2

Feature Dibalik Batu Pertama 2

21.44
Feature Dibalik Batu Pertama 1

Feature Dibalik Batu Pertama 1

19.38
Feature Dibalik Batu Pertama 3

Feature Dibalik Batu Pertama 3

23.48
Khutbah Idul Fitri 1447 H - Tahun 2026 - Berharap Hidayah Allah

Khutbah Idul Fitri 1447 H - Tahun 2026 - Berharap Hidayah Allah

21.08
SEBAB SAYA MENGUNDURKAN DIRI DARI MTI CANDUANG I

SEBAB SAYA MENGUNDURKAN DIRI DARI MTI CANDUANG I

00.09
BULETIN JUM'AT TAHUN 2 EDISI 6 - ISLAM DI MINANGKABAU MEMANG BELUM SEMPURNA NAMUN DAKWAH TERUS BERLANJUT

BULETIN JUM'AT TAHUN 2 EDISI 6 - ISLAM DI MINANGKABAU MEMANG BELUM SEMPURNA NAMUN DAKWAH TERUS BERLANJUT

23.00

Recent Comments

Follow Us On Instagram @fitrayadi1980

Fitra Yadi Malin Parmato

About Us

Saya seorang Kepala Keluarga, Pendidik, Da'i - Muballigh, Jurnalis, petani, aktifis sosial dan kemanusiaan

Selengkapnya: Tentang Saya

Follow Us

© Layout by Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak