-->
Telusuri
24 C
id
  • Homepage
  • Tentang Saya
  • Kontak
Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Kategori Postingan
    • Artikel
    • Khazanah Islam
    • Kisah-Kisah
    • Video
    • Photo
  • Photo
    • Video
  • Arsip Lama
  • Video
  • Featured
    • Koleksi Situs Berita
    • Home - Akad Nikah Nursakdiyah
    • Aksi Tanggap Bencana
    • Home - Post Search
    • Home - Post Archive
    • Home - Eror 404
    • RTL LanguageNew
    • Tutorial PemogramanNew
Telusuri
Beranda Dibalik Batu Pertama Feature Feature - Dibalik Batu Pertama 7
Dibalik Batu Pertama Feature

Feature - Dibalik Batu Pertama 7

Fitra Yadi
Fitra Yadi
12 Agu, 2026 2 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

DI BALIK BATU PERTAMA

Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan

Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato


BAB 6
Amplop Lima Ratus Ribu


Sabtu pagi, 25 Juli 2026.

Setelah berhari-hari dikejar waktu, akhirnya hari yang ditunggu itu tiba.

Hari peletakan batu pertama pembangunan Masjid Ali bin Abi Thalib di Dusun Bukik Limau, Jorong Sarilamak.

Kita di Indonesia menyebutnya mushalla, sedangkkan pihak donatur dari Uni Emirat Arab menyebutnya sebagai Masjid. 

Perbedaan istilah, tetapi tidak mengapa. 

Saya melihat warga berdatangan satu demi satu.

Ada tokoh masyarakat.

Ada ustaz-ustaz.

Ada pengurus Majelis Ulama Nagari.

Ada keluarga pewakaf.

Ada unsur pemerintahan nagari.

Ada pengurus mushalla dan nazir wakaf.

Ada pula masyarakat biasa yang datang karena ingin menyaksikan sebuah harapan lama akhirnya mulai diwujudkan.

Tanah yang selama bertahun-tahun hanya menjadi tanah wakaf, pagi itu berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang membawa harapan.

Saya berdiri di tengah mereka bersama Pak Tang.

Di mata sebagian orang, kami berdua adalah perwakilan Human Initiative.

Padahal saya bukan pegawai Human Initiative.

Saya tidak pernah menerima surat tugas sebagai perwakilan lembaga tersebut.

Saya tidak pernah ditelepon oleh atasannya Pak Tang. 

Saya hanya orang yang sejak awal membantu proses administrasi dan kebetulan sering terlibat dalam kegiatan pembangunan yang dikerjakan melalui jaringan yang sama.

Tetapi bagi masyarakat, batas itu mungkin tidak terlalu penting.

Yang mereka lihat adalah orang yang datang bersama proyek.

Orang yang dianggap membawa bantuan.

Dan karena itulah, setiap gerak kami memiliki makna.


---


Acara berlangsung.

Ayat suci Al-Qur'an dibacakan.

Sambutan-sambutan disampaikan.

Tentang wakaf.

Tentang pembangunan.

Tentang harapan masyarakat.

Tentang amal jariyah.

Tentang mushalla yang kelak diharapkan tidak hanya berdiri sebagai bangunan, tetapi menjadi tempat tumbuhnya generasi.

Saya mendengarkan semuanya.

Dalam hati saya berdoa.

Semoga jangan sampai bangunan ini hanya menjadi bangunan biasa. 

Sebab sebuah mushalla tidak selesai ketika kubahnya selesai.

Tidak selesai ketika lantainya mengilap.

Tidak selesai ketika prasastinya dipasang.

Mushalla baru benar-benar selesai ketika manusia memakmurkannya.

Dan kemakmuran itu membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada semen dan pasir:


Keikhlasan


---


Kemudian tiba saatnya peletakan batu pertama.

Satu per satu orang yang telah ditentukan maju.

Batu diletakkan.

Kamera memotret.

Orang-orang tersenyum.

Ada tepuk tangan.

Ada doa.

Ada harapan yang mungkin tidak semuanya mampu diucapkan.

Saya memandang batu itu.

Sebuah benda kecil.

Tidak mahal.

Namun hari itu ia menjadi simbol.

Simbol bahwa pembangunan akhirnya dimulai.

Saya teringat empat tahun sebelumnya.

Saya teringat proposal yang pernah saya kirim.

Saya teringat tanah yang dahulu masih sunyi.

Dan saya merasa lega.

Alhamdulillah.

Akhirnya.


---


Namun, ada sesuatu yang tidak saya ketahui ketika acara sedang berlangsung.

Pak Tang ternyata menyampaikan sesuatu kepada Pak Rizki Yuzhar.

Belakangan Pak Rizki menceritakannya kepada saya.

Menurut penuturannya, Pak Tang meminta agar setelah acara nanti selesai tolong disiapkan sebuah amplop berisi uang sebesar Rp500.000 untuk saya.

Alasannya, saya dianggap sebagai perwakilan Human Initiative.

Bagi saya, kalimat itu terasa seperti tamparan.

Bukan karena jumlahnya.

Lima ratus ribu bukanlah jumlah yang akan membuat hidup saya berubah.

Tetapi karena siapa yang diminta menyediakan uang itu.

Panitia.

Penerima manfaat.

Orang-orang yang sedang membangun rumah Allah dengan swadaya dan bantuan.

Saya merasa ada sesuatu yang keliru.

Saya menolak.

"Jangan," kata saya kepada Pak Rizki.

Saya tidak ingin menerima uang itu.

Bukan karena saya tidak membutuhkan uang.

Tetapi karena saya tidak ingin uang tersebut keluar dari kantong orang yang sedang menerima bantuan.

Bagi saya, itu batas yang harus dijaga.

Kalau seseorang memberikan hadiah kepada saya dari uang pribadinya karena menghargai pekerjaan saya, itu perkara lain.

Saya bisa menerimanya sebagai hadiah.

Tetapi meminta kepada penerima manfaat?

Tidak.

Saya tidak nyaman.


---


Saya pernah berada dalam situasi yang berbeda.

Ibu Asni, salah seorang yang pernah bekerja bersama Pak Tang, pernah mengajak saya menghadiri sebuah acara peresmian.

Saya diminta membantu sebagai orang yang mewakili pihak yang berhubungan dengan proyek.

Saya hadir.

Saya membantu.

Saya berbicara.

Setelah acara selesai, Ibu Asni memberi saya uang Rp200.000 dari kantongnya sendiri.

Minyak sepeda motor saya dibelikan.

Makan saya ditanggung.

Saya menerimanya dengan senang hati.

Mengapa?

Karena saya tahu uang itu bukan diambil dari panitia penerima manfaat sebagai syarat atau imbalan atas bantuan.

Bagi saya, di situlah perbedaannya.

Bukan jumlahnya.

Melainkan sumbernya.

Bukan besar kecilnya.

Melainkan niat dan caranya.

Saya mungkin terlalu sederhana dalam memandang persoalan.

Tetapi saya percaya, dalam urusan amanah, perkara kecil pun harus diperhatikan.

Sebab kebiasaan besar sering kali bermula dari pembenaran terhadap perkara kecil.


---


Beberapa jam setelah acara selesai, telepon saya berbunyi.

Pesan dari Pak Tang.

Ia menanyakan apakah saya sudah menerima amplop dari panitia.

Saya menjawab sesuai kenyataan.

Saya tidak menerima.

Kemudian datang pesan berikutnya.

Kurang lebih isinya meminta agar jika uang itu sudah saya terima, uang tersebut dibagi dua.

Rp250.000 untuk saya.

Rp250.000 untuk beliau.

Saya membaca pesan itu berulang kali.

Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Ada rasa kecewa.

Ada rasa marah.

Ada rasa sedih.

Bukan semata karena uang.

Justru karena saya merasa nama saya telah ditempatkan di tengah sesuatu yang sejak awal tidak saya setujui.

Saya merasa seperti dijadikan pintu untuk mendapatkan sesuatu dari penerima manfaat.

Dan saya tidak mau.


---


Sore harinya Pak Tang datang ke rumah saya.

Ia menanyakan uang tersebut.

"Saya tidak terima, Pak."

Saya menjelaskan bahwa uang itu sudah saya kembalikan kepada pengurus.

Saya kira persoalan selesai.

Ternyata tidak.

Ia marah.

Menurutnya saya telah mengambil keputusan sendiri tanpa berkoordinasi dengannya.

Saya mendengarkan.

Diam.

Dalam hati saya bertanya:

Sejak kapan menolak uang yang menurut hati saya tidak pantas diterima harus meminta izin terlebih dahulu?

Saya tidak mengatakan pertanyaan itu.

Saya hanya menjelaskan bahwa saya tidak nyaman menerima uang dari panitia.

Saya tidak mau.

Selesai.

Namun dari pembicaraan itu saya mendapat kesan bahwa uang tersebut memang sudah diharapkan.

Bahkan, menurut penjelasannya, uang itu diperlukan untuk kebutuhan seperti membayar utang rokok dan minyak sepeda motor.

Saya semakin terdiam.

Sebab bagi saya, justru di situlah persoalannya.

Ketika kebutuhan pribadi mulai bertemu dengan dana yang berasal dari orang yang sedang menerima manfaat, batas amanah menjadi semakin tipis.

Dan garis tipis itu tidak boleh kita langkahi hanya karena kebutuhan sedang mendesak.


---


Malamnya saya menyampaikan persoalan itu kepada beberapa pengurus.

Mereka mendengarkan.

Tidak banyak yang berkata.

Sebagian hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Saya tahu mereka juga tidak ingin persoalan ini menjadi besar.

Mereka hanya ingin mushalla dibangun.

Mereka tidak ingin bertengkar dengan siapa pun.

Mereka tidak ingin bantuan pergi.

Mereka tidak ingin masyarakat kecewa.

Mereka berada dalam posisi yang sulit.

Begitu pula saya.

Sebab di satu sisi saya ingin pembangunan ini terus berjalan.

Di sisi lain saya tidak ingin prosesnya dimulai dengan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan saya.

Saya kemudian sadar:

kadang-kadang ujian amanah bukan ketika kita ditawari uang dalam jumlah besar.

Justru ujian itu datang ketika jumlahnya kecil.

Lima ratus ribu.

Dua ratus lima puluh ribu.

Sebuah amplop.

Sebuah bisikan.

Sebuah pesan WhatsApp.

Sesuatu yang tampaknya terlalu kecil untuk dipermasalahkan.

Tetapi hati kita tahu:

Ada yang tidak beres.


---


Saya tidak tahu apakah orang lain akan memandang persoalan itu sama seperti saya.

Mungkin ada yang menganggapnya biasa.

Mungkin ada yang mengatakan itu hanya tanda terima kasih.

Mungkin ada pula yang menganggap jumlahnya tidak seberapa.

Saya tidak ingin menghakimi siapa pun.

Saya hanya tahu apa yang saya rasakan.

Dan saya memilih mengikuti hati nurani saya.

Uang itu saya kembalikan.

Selesai.

Saya kira setelah itu pembangunan akan berjalan seperti yang dijanjikan.

Saya kira beberapa hari kemudian tukang akan datang.

Saya kira tanah akan mulai diukur.

Saya kira pemancangan akan dilakukan.

Saya kira suara mesin dan palu akan segera terdengar di tanah wakaf itu.

Tetapi ternyata saya kembali harus belajar satu hal:

Meletakkan batu pertama tidak selalu berarti pekerjaan benar-benar telah dimulai.

Beberapa hari kemudian, tanah itu kembali sunyi.

Dan pertanyaan mulai bermunculan.

Kapan pembangunan dimulai?

Siapa yang akan mengerjakan?

Dari mana dana awalnya?

Kapan tukang datang?

Kapan pemancangan dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan.

Dan kegelisahan itu akhirnya sampai kepada saya.

Sekali lagi saya berada di tengah.

Di antara masyarakat yang berharap.

Di antara panitia yang mulai bertanya.

Di antara sebuah lembaga yang namanya ikut disebut.

Dan di antara seorang pelaksana proyek yang mulai saya lihat dengan cara yang berbeda.

Saya belum tahu, bahwa setelah batu pertama diletakkan, justru perjalanan yang paling sulit baru saja dimulai.

***


DAFTAR ISI:

  1. Prolog
  2. BAB 1 - Orang yang Membawa Harapan
  3. BAB 2 - Saya Hanya Ingin Masjid Itu Berdiri
  4. BAB 3 - Menjadi "Orang Human Initiative" Tanpa Pernah Diangkat
  5. BAB 4 - Empat Tahun Menunggu
  6. BAB 5 - Deadline Lima Hari
  7. BAB 6 - Amplop Lima Ratus Ribu
  8. BAB 7 - Setelah Batu Pertama Diletakkan
  9. BAB 8 - Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Sendiri



Via Dibalik Batu Pertama
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Fitra Yadi
Fitra Yadi Guru, jurnalis, aktifis

Anda mungkin menyukai postingan ini

2 komentar

  1. AnonimRabu, Agustus 12, 2026 9:29:00 AM

    sesuai dengan diskusi kita sebelumnya lin..hari ini sesuatu yang tidak normal dianngap normal..kalau kita berjalan di jalan yang seharusnya kita tempuh sesuai norma2 dan etika, hari ini kita dianngap tidak normal dan bodoh..

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
  2. Fitra YadiRabu, Agustus 12, 2026 9:35:00 AM

    Iyo Katik benar sekali

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Silahkan tinggalkan komentar anda setelah membaca blog ini dengan bahasa yang sopan dan lugas.

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement
Fitra Yadi Malin Parmato
Lihat Tentang saya
 


Tutorial Edit Video

Kdenlive - Freedom Video Editing


Stay Conneted

twitter Follow
instagram Follow
pinterest Follow

Featured Post

Feature - Dibalik Batu Pertama 9

Fitra Yadi- 22.51 0
Feature - Dibalik Batu Pertama 9
DI BALIK BATU PERTAMA Catatan Seorang Guru Mengaji di Balik Proyek Kemanusiaan Oleh: Fitra Yadi Malin Parmato BAB 8 Ketika Saya Mulai Bertanya kepada Diri Send…

Most Popular

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

Feature - Dibalik Batu Pertama 6

23.37
Feature - Dibalik Batu Pertama 7

Feature - Dibalik Batu Pertama 7

08.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 2

Feature - Dibalik Batu Pertama 2

21.44
Feature - Dibalik Batu Pertama 5

Feature - Dibalik Batu Pertama 5

13.27
Feature - Dibalik Batu Pertama 1

Feature - Dibalik Batu Pertama 1

19.38
Feature - Dibalik Batu Pertama 8

Feature - Dibalik Batu Pertama 8

20.50
Feature - Dibalik Batu Pertama 3

Feature - Dibalik Batu Pertama 3

23.48

Recent Comments

Follow Us On Instagram @fitrayadi1980

Fitra Yadi Malin Parmato

About Us

Saya seorang Kepala Keluarga, Pendidik, Da'i - Muballigh, Jurnalis, petani, aktifis sosial dan kemanusiaan

Selengkapnya: Tentang Saya

Follow Us

© Layout by Fitra Yadi Malin Parmato
  • Beranda
  • Tentang Saya
  • Kontak